Ngarot merupakan upacara adat menyongsong datangnya musim hujan, yaitu
tibanya musim tanam padi. Biasanya adat ini dilaksanakan pada pekan
ketiga bulan November atau Desember dan selalu dilaksanakan pada Rabu.
Hari yang dianggap keramat dan hari baik oleh masyarakat Lelea, Indramayu untuk
menanam padi.
Istilah ngarot berasal dari kata ”nga–rot” (basa Sunda) yang berarti
minum atau ngaleueut. Uniknya, hanya pemuda dan pemudi yang masih
menjaga kesuciannya yang boleh ikut dalam acara ini karena jika pemuda
atau pemudi sudah tidak suci akan terlihat sangat buruk di mata para
peserta ngarot, dalam upacara ini para gadis desa peserta upacara dihias
dengan mahkota bunga di kepalanya sebagai lambang kesucian. konon katanya jika seorang pemudi yang mengikuti tradisi itu sudah tidak perawan maka bunga bunga yang dimahkotakannya akan layu.
Berbusana kebaya berselendang yang dilengkapi aksesori, seperti kalung,
gelang, cincin, bros, peniti emas, dan hiasan rambut. Para gadis pun
bermahkotakan rangkaian bunga-bunga, yaitu kenanga, melati, dan kertas.
Sementara remaja putra mengenakan busana baju komboran dan celana
gombrang berwarna hitam, lengkap dengan ikat kepala.
Pemangku adat yang juga Kuwu Desa Lelea, Raidi, berpesan kepada gadis
dan bujang ngarot agar senantiasa mrngucap syukur atas hasil bercocok
tanam dan sebagai penyemangat para petani untuk kembali mulai bercocok
tanam. Dia berharap ngarot ini sebagai pembelajaran dan regenerasi
petani dari generasi tua kepada generasi muda.
Tradisi Ngarot ini biasa di adakan sebagai ucapan rasa syukur atas melimpahnya hasil panen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar